A

khir bulan September lalu di New York, Amerika Serikat, seorang anak remaja perempuan berteriak lantang,  “Kalian adalah pencuri!” katanya, “kalian telah mencuri mimpi-mimpi saya”. Ia menunjuk pada ratusan orang yang berada di depannya. Mereka adalah para pemimpin, pemimpin gerombolan pencuri-pencuri dari seluruh penjuru dunia. Termasuk mungkin pemimpin kita. Kita para pencuri. Pencuri mimpi, harapan, dan masa depan anak remaja permpuan tadi. Pencuri mimpi, harapan, dan masa depan anak-anak kita sendiri.

Anak perempuan remaja tadi bernama Greta Thunberg, berasal dari Swedia. Ia waktu  itu berpidato di sebuah sidang PBB di New York mengenai  perubahan iklim.

investasi berkelanjutanKita sebagai species Homo Sapiens, terutama sejak revolusi industri di abad 18, acap  mengabaikan prinsip keberlanjutan dalam hidup di planet bumi, dalam  memanfaatkan kekayaan alam. Kita seringkali mengabaikan apakah planet bumi masih akan dapat memberikan dukungan bagi kehidupan dan kesejahteraan generasi-generasi mendatang. Dengan kata lain, kita mencuri, merampas masa depan anak-anak kita sendiri.

Kepunahan Massal di Planet Bumi

Enam puluh enam juta tahun yang lalu,  sebuah meteor raksasa menghantam planet bumi, tepatnya di Semenanjung Yucatan, Mexico. Menimbulkan bencana maha dahsyat dan menyebabkan kepunahan massal. Sebagian besar species mahluk hidup di permukaan bumi punah, termasuk Dinosaurus.  Ini adalah kepunahan masal yg kelima dalam sejarah panjang kehidupan di planet bumi.

Namun,  banyak yang tidak menyadari, saat ini kita hidup pada sebuah masa dimana kita menjadi saksi mata. Sebuah masa dimana kita bahkan menjadi pelaku. Pelaku kepunahan massal yg keenam. Laporan IPBES (The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) bulan July lalu memberikan gambaran yang sangat kelam mengenai kehidupan di planet Bumi. Tingkat kepunahan species saat ini ratusan kali lipat lebih tinggi dari tingkat kepunahan yg biasanya terjadi dalam 10 juta tahun terakhir. Hampir satu juta  species, jenis makhluk hidup, terancam punah dalam beberapa dekade mendatang.

Sungguh ironis, kepunahan massal kali ini bukan karena hantaman meteor atau invasi aliens dari planet lain. Tapi karena ulah kita sendiri. Sebanyak 75 persen daratan bumi telah mengalami degradasi karena intervensi manusia. Lebih dari dua pertiga sumber daya lautan telah kita eksplorasi secara maksimal, atau bahkan melebihi kapasitas maksimalnya. Berbagai gaya hidup, aktivitas produksi,  dan pola konsumsi kita, menyebabkan perubahan iklim  dan pemanasan global.

Ini semua terjadi tidak hanya karena keserakahan, tapi terkadang juga  karena kenaifan kita. Kita seringkali belum sepenuhnya mengerti bagaimana planet bumi, dengan segala ekosistem di atasnya, bekerja dalam mendukung eksistensi manusia.

Kita membasmi serangga secara serampangan, karena mungkin kita anggap semuanya hama. Tapi tanpa mereka sebagian besar penyerbukan tumbuhan tanaman tidak dapat terjadi. The Insect Apocalypse is Here (Kiamat Serangga Tengah Terjadi), demikian sebuah tulisan di New York Times akhir tahun 2018 lalu. Artikel ini memicu perdebatan, dan meningkatkan kesadaran lebih jauh betapa terancamnya kondisi serangga sebagai penyangga utama kehidupan manusia. Serangga adalah polinator bagi penyerbukan tanaman. Serangga adalah pengurai limbah dan pengaya lahan. Serangga bagian kritikal dari rantai makanan dan kehidupan di planet bumi.

Sebagian dari kita menganggap lahan gambut adalah lahan tersia-sia. Lalu kita keringkan lahan-lahan gambut di negeri ini. Kita tebangi pohon-pohon dan segenap tumbuhan yang ada di atasnya. Lalu kita tanami komoditas tertentu saja, seringkali dengan ceroboh. Kemudian, kita tidak hanya kehilangan ekosistem yang kaya, kita  juga kehilangan serapan  banjir yang luar biasa di musim hujan. Kemudian, kita diamuk api dimusim kering, yang meluluhantakkan kehidupan dan perekonomian masyarakat kita, bahkan hingga ke ngera-negara tetangga. Bencana ini juga menumpahkan jumlah karbon yang tiada dara ke atmosfir. Karena lahan gambut adalah lahan organik yang kaya akan stok karbon.

investasi berkelanjutanKita juga seringkali menganggap enteng perubahan iklim. Apalah artinya suhu naik 1.5 celcius, paling lebih gerah sedikit dari biasanya.  Tapi kenaikan air laut karena pemanasan tidak hanya menggeser kita makin jauh ke daratan, tapi akan memusnahkan tempat kehidupan bagi ratusan juta manusia berikut dengan peradaban yang telah terbangun ribuan tahun lamanya. Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi bencana alam, karena cuaca yang semakin ekstrim.

Perubahan iklim tidak saja mendegradasi keanekaragaman hayati, tetapi juga akan merubah pola sebarannya. Jangan sesali jika di masa yang akan datang kapal-kapal nelayan anak cucu kita ditenggelamkan oleh China atau Vietnam. Karena ikan-ikan tak kuat lagi bertahan di iklim tropis yang semakin panas, sehingga nelayan kita terpaksa mengejarnya ke area sub tropis.

Gelombang Investasi Peduli Bumi

Namun, sepertinya belum terlalu terlambat untuk berbuat sesuatu. Di dunia keuangan dan investasi,  saat ini terjadi sebuah gelombang perubahan besar. Awal September lalu saya menghadiri konferensi UN PRI (Principle Responsible for Investment) di Paris. Konferensi besar dibuka oleh Menteri Keuangan Perancis. Presiden perancis Manuel Macron memberikan sambutan melalui video conference. Hampir 2000 fund manager terkemuka dan eksekutif senior dari berbagai perusahaan investasi dan perusahaan lainnya di seluruh dunia memadati konferensi ini.

Tidak seperti layaknya sebuah konferensi tentang investasi dan pengelolaan dana,  tidak ada satu sesi pun yang membahas tinjauan perekonomian, prospek keuangan perusahaan,  strategi bisnis, dan lain-lain. Mereka selama tiga hari  bertukar fikiran mengenai perubahan iklim, bencana keanekaragaman hayati, deforestasi, pekerja anak, penyelundupan wanita, perbudakan modern, dan berbagai isu lainnya terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola bisnis. Karena mereka percaya tanpa kepedulian pada lingkungan hidup dan sosial, tidak ada jaminan bagi keberlanjutan investasi mereka.

Gelombang investasi yang berkelanjutan dan bertanggungjawab, yang mengintegrasikan aspek lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola yang baik, atau ESG (environment, social, governance), tidak terbendung lagi. Menurut PRI saat ini lebih dari 1900 pengelola dan pemilik aset keuangan yang mengontrol dana sebesar $89 triliun, telah berkomitmen untuk mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan dan ESG dalam pengelolaan portoflolio mereka.   MSCI mengungkapka bahwa dana kelolaan reksadana  ETF berbasis ESG di seluruh dunia naik lebih dari 12x lipat dalam 5 tahun terakhir. Kemudian, survei terakhir US SIF (Sustainable Investment Forum) tahun 2019 ini, lebih dari seperempat dana kelolaan investasi di AS telah mengacu pada prinsip-prinsip keberlanjutan.

Di Indonesia pasar kita seperti biasa merespons lebih lambat, tapi bukan berarti kita tidak melakukan sesuatu. OJK dari tahun 2015 yang lalu telah meluncurkan pete jalan keuangan berkelanjutan. Kerangka regulasi dan pilot project penerbitan obligasi hijau juga telah dieksekusi.

Sekitar 10 tahun yang lalu, Yayasan KEHATI merintis insiatif investasi berkelanjutan di pasar modal Indonesia dengan meluncurkan Indeks SRI KEHATI, sebuah indeks saham berkelanjutan berbasis ESG.  Yayasan KEHATI juga berusaha menggaet manajer investasi untuk mengeluarkan produk reksadana berkelanjutan dengan mengacu pada Indeks SRI KEHATI. Setelah melalui perjalanan panjang, usaha-usaha selama ini mulai menunjukkan hasil dalam dua tahun terakhir.

investasi berkelanjutanSejak awal tahun 2018 lalu hingga bulan September 2019 dana reksadana ESG yang mengacu pada Indeks SRI KEHATI tumbuh lebih 7 kali lipat menjadi sekitar Rp1.5 triliun. Jumlah reksadana pun bertambah pesat dari 2 menjadi 9. Sebuah tren yang sangat menggembirakan, meskipun secara proporsional masih belum signifikan dibandingkan jumlah kelolaan reksadana di tanah air.

Pada akhirnya, investasi dan bisnis yang peduli lingkungan dan sosial, bukanlah sesuatu yang akan dipaksakan lagi oleh regulator, diteriak-teriakkan oleh LSM. Ia kelak akan menjadi norma-norma, nilai-nilai yang akan sendirinya  diadopsi pasar. Suatu saat perusahaan tidak bisa lagi mengeluarkan obligasi jika rating ESG atau rating sosial dan lingkungannya tidak memenuhi persyaratan investor. Karena kualitas ESG sebuah perusahaan sama pentingnya denga kualitas kreditnya. Demikian juga di pasar saham dan pasar keuangan lainnya, para investor dan pemilik  aset akan akan menutup pintu bagi perusahaan-perusahaan yang tidak ramah lingkungan, perusahaan-perusahaan yang tidak peduli pada masyarakat di sekitarnya, dan perusahaan-perusahaan yang tanpa malu-malu mencuri masa depan anak-anak mereka sendiri.

Note: Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di CNBC Indonesia.

BACA JUGA:

—  Mengenal Hedge Fund, Private Equity, dan Venture Capital

 Kita Terlalu Mengagung-agungkan Kerja Keras?

 — Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mata Uang Dalam Jangka Menengah 

— Mitos Sharing Economy dan Perusahaan Teknologi

— Pertarungan Antara Samurai vs Shogun di Dunia Obligasi Internasional

Salam, RF – www.FrindosOnFinance.com

 


 

LEAVE A REPLY